Artikel Kesehatan
Andre Logo

Andre Logo

Staff SubBag Perencanaan, Evaluasi & Pelaporan Dinkes Kota Kupang

Penyakit yang termasuk ke dalam penyakit tidak menular (PTM) merupakan kelompok penyakit yang berpotensi tinggi menjadi penyakit penyerta atau komorbid sehingga akan sangat rentan jika teinfeksi COVID-19. Penyakit yang termasuk dalam kelompok PTM antara lain hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, gagal ginjal, stroke dan kanker.
Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan bagi para peyandang PTM, antara lain menjaga asupan makanan dan minuman, menjalankan kebiasaan sehat dan rutin melakukan pemeriksaan ke dokter, terutama pemeriksaan dengan dokter yang telah mengetahui rekam medis para penyandang PTM. Untuk itu diharapkan Penyandang PTM melakukan Konsultasi dengan dokter apabila memungkinkan dengan bantuan telemedis atau konsultasi online. Tentunya diupayakan dengan dokter yang sudah mengetahui rekam medis pasien.
Terdapat beberapa tips tambahan bagi para penyandang PTM. Bagi penyandang PTM yang berusia 50 tahun ke atas, diharapkan dapat tinggal di rumah untuk mengurangi potensi tertular COVID-19.

Pertama, tetap berada di rumah, terutama bagi yang berusia 50 tahun ke atas
Kedua, meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi, hindari gula dan lemak berlebih. Selain itu konsultasikan dengan dokter terkait suplemen atau multivitamin yang dapat dikonsumsi.
Ketiga, jaga jarak minimal 1-2 meter, hindari kerumunan atau keramaian
Keempat, Mencegah perpindahan droplet yang berpotensi menularkan virus SARS-CoV-2, lakukan cuci tangan dengan sabun dengan air mengalir selama minimal 20 detik. Jika tidak memungkinkan, gunakan hand sanitizer yang mengandung 60 persen alkohol.
Selanjutnya, gunakan masker jika harus keluar rumah.
Keenam, hindari menyentuh wajah, hidung, mata dan mulut sebelum mencuci tangan.
Ketujuh, upayakan aktivitas fisik selama 30 menit per hari atau dapat disesuaikan dengan saran dokter guna meningkatkan imunitas tubuh. Namun, hindari aktivitas dengan intensitas yang tinggi
Kedelapan, istirahat yang cukup selama 6-8 jam sehari untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik.
Jika mulai merasa stres, bingung dan takut, bicarakan perasaan tersebut pada orang yang dipercaya. Saling menguatkan dapat menjadi obat dari rasa stres. Terus beribadah, membaca buku, mendengar musik atau melakukan aktivitas lain yang dapat membantu melawan rasa cemas.

Bagi masyarakat untuk selalu mengikuti anjuran pemerintah yang disiarkan resmi setiap hari. Usahakan membaca berita dan informasi yang terpercaya yang terbukti kebenarannya. Hindari mitos dan hoax yang membuat kita semakin panik.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat yang merasa sehat agar tetap melakukan deteksi dini ke rumah sakit melalui screening minimal enam bulan hingga satu tahun sekali. Beberapa hal yang perlu dipantau adalah tekanan darah, gula darah, indeks berat badan dan indikator kesehatan personal lainnya.

Saat bencana alam besar, bencana peperangan maupun wabah terjadi di suatu negara, selain perekonomian, sistem kesehatan adalah salah satu bidang yang akan terpukul telak; layanan kesehatan rutin termasuk pengobatan pasien dengan penyakit kronis, penyakit menular seperti HIV, TBC dan sebagainya maupun ketersediaan donor darah akan terganggu. Disamping itu, cakupan imunisasi rutin yang diwajibkan untuk anak balita (bawah lima tahun) akan menurun yang akan meningkatkan kerentanan anak terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC, polio, difteri dan campak.

Imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat paling efektif dan efisien dalam mencegah beberapa penyakit berbahaya. Sejarah telah mencatat besarnya peranan imunisasi dalam menyelamatkan masyarakat dunia dari kesakitan, kecacatan bahkan kematian akibat penyakit-penyakit seperti Cacar, Polio, Tuberkulosis, Hepatitis B yang dapat berakibat pada kanker hati, Difteri, Campak, Rubela dan Sindrom Kecacatan Bawaan Akibat Rubela (Congenital Rubella Syndrom/CRS), Tetanus pada ibu hamil dan bayi baru lahir, Pneumonia (radang paru), Meningitis (radang selaput otak), hingga Kanker Serviks yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus.

Dalam imunisasi terdapat konsep Herd Immunity atau Kekebalan Kelompok. Kekebalan Kelompok ini hanya dapat terbentuk apabila cakupan imunisasi pada sasaran tinggi dan merata di seluruh wilayah. Kebalnya sebagian besar sasaran ini secara tidak langsung akan turut memberikan perlindungan bagi kelompok usia lainnya, sehingga bila ada satu atau sejumlah kasus Penyakitpenyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) di masyarakat maka penyakit tersebut tidak akan menyebar dengan cepat dan Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat dicegah. Konsep ini merupakan bukti bahwa program imunisasi sangat efektif juga efisien karena hanya dengan menyasar kelompok rentan maka seluruh masyarakat akan dapat terlindungi.

Dari sisi ekonomi, upaya pencegahan penyakit sejatinya akan jauh lebih hemat biaya, bila dibandingkan dengan upaya pengobatan. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) sebagian besarnya merupakan penyakitpenyakit yang bila sudah menginfeksi seseorang maka akan membutuhkan biaya pengobatan dan perawatan yang cukup tinggi yang tentunya akan membebani negara, masyarakat serta keluarga. Biaya yang dikeluarkan untuk program imunisasi sangat jauh lebih rendah dibandingkan total potensi biaya yang harus dikeluarkan bila masyarakat terkena PD3I.

Masa pandemi COVID-19 yang telah menjangkiti sebagian besar negara pun hendaknya tidak menyurutkan semangat tenaga kesehatan untuk tetap menggaungkan pentingnya imunisasi dan melakukan langkah-langkah penting untuk memastikan setiap anak yang merupakan kelompok rentan terlindungi dari penyakit-penyakit berbahaya dengan imunisasi. 
Pandemi COVID-19 yang hari ini telah menginfeksi lebih dari 7000 jiwa telah memberika beban besar di sistem kesehatan. Sumber daya Indonesia baik di bidang kesehatan maupun non-kesehatan telah banyak dialihfungsikan untuk penanganan COVID-19, termasuk pengalihan fungsi rumah sakit dan tenaga kesehatan untuk menangani COVID-19. Untuk memastikan sistem kesehatan tidak semakin terbebani dengan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, maka kita semua harus berperan aktif unutk memastikan anak-anak usia bawah lima tahun maupun usia sekolah tetap mendapatkan imunisasi rutin sesuai jadwal, selama pandemi COVID-19 berlangsung. Dalam masa pandemi COVID-19 Imunisasi sebaiknya tetap dilakukan dengan tetap mematuhi prinsip – prinsip pencegahan COVID-19 yaitu physical distancing, cuci tangan, menjaga kebersihan dan menggunakan masker.

Bagaimana sebaiknya pelaksanaan imunisasi dilakukan selama pandemi COVID-19?

1. Imunisasi rutin bisa dilakukan dengan cara kunjungan petugas Puskesmas ke masyarakat; ini adalah cara paling aman bagi ibu dan anak. Komunikasikan dengan kader posyandu di desa anda atau Puskesmas setempat mengenai kemungkinan ini; pastikan waktu kunjungan dan petugas akan mendatangi rumah penduduk sesuai dengan jadwal Posyandu atau imunisasi anak. Tetap terapkan keamanan dengan jaga jarak 1 -2 meter saat petugas berkunjung; ibu dan anak harus selalu menggunakan masker kain selama petugas imunisasi berada di rumah. Pastikan petugas mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer berbasis alkohol 70% saat pertama tiba di rumah atau sebelum melakukan imunisasi.
2. Apabila kunjungan rumah oleh petugas Puskesmas tidak memungkinkan, Imunisasi rutin disarankan dilakukan di puskesmas dengan membuat janji terlebih dahulu dengan staf imunisasi agar tidak terjadi penumpukan.
3. Ibu dan anak yang akan melakukan imunisasi, wajib:
a. Memastikan ibu dan anak tidak sedang memiliki gejala COVID-19 yaitu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, penurunan fungsi indera penciuman, mata belekan, dan/atau sesak.
b. Jika salah satu dari ibu/anak memiliki gejala tersebut, imunisasi sebaiknya tidak dilakukan kecuali ibu dapat digantikan anggota keluarga lain yang tidak tinggal serumah.
c. Ibu dan anak wajib menggunakan masker sejak keluar rumah sampai tiba kembali di rumah.
d. Menjaga jarak setidaknya 1-2 m dengan orang di puskesmas.
e. Tidak melakukan kegiatan seperti diskusi atau ngerumpi selama proses imunisasi.
f. angsung pulang setelah proses imunisasi selesai.
g. Cuci tangan saat tiba maupun pulang dari puskesmas. Lepaskan alas kaki yang digunakan untuk keluar rumah; bila akan diletakkan dalam rumah pastikan untuk membersihkannya dengan air sabun terlebih dahulu.
4. Puskesmas yang melaksanakan imunisasi menyediakan dan mengatur tempat imunisasi dengan menggunakan prinsip jaga jarak 1 – 2 meter; detail sebagai berikut:
a. Memisahkan ruangan untuk imunisasi dengan ruangan periksa anak yang sakit.
b. Membuat jadwal antrian imunisasi sehingga ibu dan anak yang datang dapat dibatasi jumlahnya. Pengaturan jadwal dapat dilakukan bersama dengan kader posyandu setempat.
c. Menyediakan ruangan untuk imunisasi dengan cahaya dan ventilasi yang baik
d. Membersihkan area pelayanan imunisasi baik sebelum maupun sesudah pelayanan dengan cairan pembersih
e. Menyediakan kursi dan meja dengan memberi jarak 1-2 meter antar kursi.
f. Menyediakan tempat cuci tangan.
g. Sebelum prosedur imunisasi dilakukan, melakukan pemeriksaan kepada ibu dan anak mengenai gejala dan riwayat kontak terkait COVID-19.
h. Mewajibkan ibu dan anak yang datang menggunakan masker.
5. Petugas puskesmas/bidan yang akan melaksanakan imunisasi sebaiknya:
a. Menggunakan masker selama proses imunisasi
b. Tidak sedang memiliki gejala demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, penurunan fungsi indera penciuman, mata belekan, dan/atau sesak.
c. Melakukan pemeriksaan suhu sebelum melakukan imunisasi.
d. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan imunisasi.
6. Jika imunisasi di puskesmas tidak memungkinkan, maka:
a. Ibu mencari RS/klinik yang bisa melakukan imunisasi.
b. Melakukan koordinasi dengan petugas imunisasi di RS untuk membuat jadwal kunjungan imunisasi di RS.
c. Jika sudah mendapatkan jadwal kunjungan, memastikan ibu dan anak tidak sedang memiliki gejala COVID-19 yaitu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, penurunan fungsi indera penciuman, mata belekan, dan/atau sesak
d. Ibu, anak, dan petugas harus selalu menggunakan masker selama proses imunisasi.

Kamis, 09 Juli 2020 08:30

Begini Cara Mencuci Tangan Yang Benar

Salah satu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang selalu digaungkan sejak lama untuk menjaga kesehatan dan kebersihan pribadi adalah mencuci tangan. Perilaku ini seharusnya menjadi kebiasaan yang sangat baik, karena selain untuk menjaga kesehatan dan kebersihan, agama juga mengajarkannya.

Tangan merupakan media yang sangat ampuh untuk berpindahnya penyakit, karena tangan digunakan untuk memegang benda-benda yang seringkali tidak kita ketahui dengan pasti kebersihannya. Salah satu contoh adalah ketika kita memegang handle pintu atau pegangan dalam kendaraan, kita tidak pernah tahu apakah ada agen penyakit (virus/bakteri) yang menempel disana, bisa jadi sebelumnya dipegang oleh orang yang batuk/bersin ditutup oleh tangannya. Kemudian tangan kita yang sudah memegang handle pintu tersebut menutup mulut kita yang menguap atau langsung memegang makanan. Jelas sudah terjadi proses perpindahan agen penyakit disana. Jika saat itu daya tahan tubuh kita lemah, dalam masa inkubasi kita pun akan mengalami gejala yang sama.

Mencuci tangan sangat diutamakan pada waktu-waktu penting, antara lain sebelum makan, setelah buang air besar, sebelum menjamah makanan, sebelum menyusui/menyiapkan susu bayi, dan setelah beraktifitas.

Sebagai kebiasaan yang baik, mencuci tangan perlu memenuhi cara yang benar, agar kita yakin bahwa seluruh permukaan tangan sudah terbasuh dan benar-benar bersih. Urutan cara-cara tersebut tergambar dalam flyer berikut ini:

Mari kita biasakan mencuci tangan dengan benar, untuk menjaga kesehatan dan kebersihan pribadi. Hindarkan penyakit dengan cara yang sederhana, jauhkan peluang agen penyakit hinggap di tubuh kita. Jadikan cuci tangan sebagai kebiasaan pribadi dan keluarga.

Lebih jelas dapat dilihat lagi dalam video berikut: https://www.youtube.com/watch?v=V4gUbrqMWk4

SALAM SEHAT, SEHAT INDONESIA

Mendukung pelaksanaan program Pemerintah Pusat mengenai imunisasi Measles Rubella (MR) yang digelar pada bulan Agustus-September 2018 nanti, maka Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Kesehatan dan seluruh Puskesmas Se-Kota Kupang gencar melakukan sosialisasi dan penyuluhan menyangkut manfaat Imunisasi MR.

Kegiatan Imunisasi MR pada bulan Agustus dilaksanakan dengan sasaran seluruh Anak Sekolah di Kota Kupang, sedangkan bulan September dilaksanakan dengan sasaran Seluruh Anak Balita di setiap Posyandu atau Pos Pelayanan Imunisasi. Jumlah sasaran kampanye imunisasi MR di Kota Kupang tahun 2018 sebanyak 104,791 sasaran dengan usia 9 bulan kurang dari 15 tahun. Jumlah pos-pos imunisasi MR sebanyak 766 pos, yang nantinya dalam pelaksanaan Imunisasi MR akan dimonitoring oleh pemimpin wilayah setempat dan Juga Tenaga Kesehatan.

Berikut Kami sajikan data Update Capaian Imunisasi MR Kota Kupang per 14 Agustus 2018, Pukul 23.59 WITA … !!

Laporan per 14 Agustus hingga Pkl. 23.59 WITA diolah dari Aplikasi Rapid Pro dalam https://www.kampanyemr.info , Laporan akan diupdate setiap hari

Mendukung pelaksanaan program Pemerintah Pusat mengenai imunisasi Measles Rubella (MR) yang akan digelar pada bulan Agustus-September 2018 nanti, maka Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Kesehatan dan seluruh Puskesmas Se-Kota Kupang gencar melakukan sosialisasi dan penyuluhan menyangkut manfaat Imunisasi MR.

Campak alias measles adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan dapat ditularkan melalui batuk dan bersin. Penyakit ini sangat mudah menular dan banyak menyerang anak-anak.

Untuk memberikan kemudahan didalam proses pelayanan informasi Puskesmas Sekota Kupang Maka Dinas Kesehatan Kota Kupang melaunching website bagi 11 Puskesmas di Kota Kupang dan juga 2 UPT yakni Laboratorium Kesehatan Lingkungan dan Instalasi Farmasi Kota Kupang. Penyediaan Website pada masing-masing Puskesmas dan UPT digunakan sebagai media penyampaian informasi kepada publik untuk mendukung keterbukaan informasi di era digital dan juga melihat besarnya trafik penggunaan media sosial dan internet di seluruh wilayah Kota Kupang.

Rabu, 25 April 2018, Kota Kupang Kota Kupang Resmi berusia 22 Tahun, sejak ditetapkan pada 25 April 1996. Perayaan Ulang Tahun Kota Kupang diwarnai dalam keberagaman busana etnis berbagai daerah dari peserta yang hadir dalam acara perayaan tersebut. Dalam Perayaan ini Walikota dan Wakil Walikota Kupang juga turut menyampaikan berbagai prestasi yang telah di raih Kota Kupang selama ini, dan juga berbagai program yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Kupang kedepannya.

Sebelumnya dalam rangka Menyongsong Hari Ulang Tahun kota Kupang ke-22, Pemkot Kupang akan menggelar festival BSL alias Bose, Sei dan Luat (sambal) yakni makanan khas NTT. Hal ini terungkap dalam rapat persiapan HUT Kota Kupang, yang dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Kupang, dr Herman, yang dihadiri oleh instansi pemerintahan, BUMN/BUMD, organisasi, yayasan, media, paguyuban, perusahaan swasta yang berjumlah 90-an. Tahun ini Pemerintah Kota sengaja melibatkan seluruh pihak untuk menyukseskan HUT kota Kupang, khususnya Festival Bose Se'i Lu'at karena membangun kota Kupang tidak hanya Pemerintah tapi seluruh masyarakat kota Kupang.

Foto ilustrasi Jagung Bose dan Daging Se'i (foto diambil dari Wajibbaca.com)

Dinas Kesehatan Kota Kupang juga turut berpartisipasi dalam acara ini dengan melaunching dua program inovasi Puskesmas, yakni Puskesmas Manutapen sebaga Puskesmas Peduli TB, dan Juga Puskesmas Oebobo sebagai Puskesmas Ramah Disabilitas yang diresmikan secara langsung oleh Walikota dan Wakil Walikota Kupang, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang.
Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai Puskesmas Peduli TB oleh Puskesmas Manutapen yakni melakukan aksi ketuk pintu ke rumah warga untuk mendata dan mendeteksi warga terserang TB. Dalam aksi ketuk pintu ini Dinas Kesehatan Kota Kupang akan melibatkan semua masyarakat, para tenaga kesehatan di 11 puskesmas, Tim PKK, aparat kecamatan dan kelurahan, para kader, tokoh masyarakat serta tokoh agama.

Petugas Kesehatan Puskesmas Manutapen Siap Melakukan Ketuk Pintu TB

Dengan telah dilaunching Puskesmas Manutapen sebagai Puskesmas peduli TBC, maka Dinas Kesehatan Kota Kupang mengajak warga untuk bersama-sama perangi TBC melalui gerakan ketuk pintu rumah warga, Hadir dalam kegiatan ini drg. Hariyono Selaku Kepala Puskesmas Manutapen mendampingi Wakil Wali Kota, Hermanus Man dan Wakil Ketua Tim PKK berserta Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang Ari Wijana bersama bebberapa tenaga kesehatan lain melakukan gerlakan ketuk pintu pada beberapan rumah warga di wikayah RT 01/RW 01 Kelurahan Manutapen, Selasa (10/4). Data penderita TBC yang aktif yang saat dirawat di Puskesmas Manutapen sebanyak 48 orang pasien dan dari 48 pasien tersebut sudah 8 orang sembuh.
Dengan sudah ditetapkan Puskesmas kami sebagai Puskesmaa peduli TBC , maka ditargetkan pasien TBC aktif yang saat sedang mendapat peralawatan di Puskesmas Manutapen harus dapat sembuh total. Oleh karena itu, dalam penanganan penyembuhan bagi penderita TBC diharapkan peran dari pendampingan yakni keluarga maupun saudara dekat dan sekitarnya untuk bisa membantu mendampingi penderita guna bisa rutin minum obat, karena proses pengobatan bagi penderita TBC dengan minum obat selama enam bulan tentunya cukup lama. Apa lagi sesuai harapan dari Wakil Walikota guna menghapus TBC, maka melalui gerakan ketuk pintu warga ini, dibutuhkan peran masyarakat dalam membantu Puskemas. Dalam penanganan bagi penderita TBC mendapat pengobatan secara gratis, dan juga adanya sembuh.
Selain itu Puskesmas Oebobo juga telah dilaunching sebagai salah satu Puskesmas yang ramah terhadap disabilitas, untuk itu kedepannya Puskesmas ini diharapkan menjadi salah satu contoh model Puskesmas yang mendukung pelayanan kesehatan terhadap disabilitasi baik dari segi saran fisik maupun model pelayanan dan program pelayanan yang ditawarkan bagi disabilitas. Puskesmas Oebobo juga beberapa kali terlibat dalam pemberian pengobatan gratis bagi penyandang disabilitas. Puskesmas Oebobo juga telah melakukan pengobatan bekerjasama dengan Perkumpulan Tuna Daksa Kristiani NTT. Tujuan utamanya selain memberikan pelayanan kepada disabilitas juga membangun pemahaman bersama tentang konsep pelayanan kesehatan yang disabilitas.

Hari Kesehatan Nasional (HKN) diperingati setiap tanggal 12 November. Pada HKN tahun 2017, Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Kota Kupang lebih memfokuskan pada kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) melalui serangkaian acara yang dilaksanakan sejak Oktober 2017.

Profil Kesehatan merupakan salah satu indikator utama yang mencatat hasil cakupan pelayanan kesehatan dari berbagai upaya dan program kesehatan yang dilakukan. Profil Kesehatan Kota Kupang Tahun 2012, merupakan kelanjutan dari profil tahun-tahun sebelumnya. Profil Kesehatan Kota Kupang juga merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari SKPD Dinas Kesehatan Kota Kupang.

Halaman 1 dari 4

Mitra Dinkes

Situs Pemerintah Kota Kupang - NTT
Situs Resmi Pemerintah Kota Kupang - NTT
Bappeda Kota Kupang
Website Resmi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Kupang
Puskesmas Pasir Panjang
Melayani dengan CERIA: Cepat,Empati, Ramah, Inovatif & Akurat
Puskesmas Kupang Kota
Profil & Kegiatan Puskesmas Kupang Kota
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
SIKDA NTT
Website Resmi SIKDA NTT

Feedback

james faot
Sabtu, 01 September 2012 lalu, Kami mengundang Dinkes Kota Kupang sebagai salah satu na...
Bungsu
mantaappzz....!!!
crew perencanaan dinkeskot,,kereennzzz... (siapa dulu bosnya,, k len tu pasti, xixixi...